Dollar Amerika Serikat Kembali Pukul Rupiah Cukup TelakDollar Amerika Serikat Kembali Pukul Rupiah Cukup Telak

0 Comment

dollar amerika serikat kembali pukul rupiah cukup telak

Dollar Amerika Serikat Kembali Pukul Rupiah Cukup Telak Sempat menguat dalam beberapa minggu lalu, menjelang akhir pekan ini, Dollar Amerika Serikat kembali menguat dan memukul jatuh Rupiah dalam bursa. Pada hari Jumat (14/12) pagi ini, Dollar Amerika Serikat merangsek naik dan membuat Rupiah yang awalnya berada di kisaran Rp14,490 seperti yang ditutup pada hari kemarin, sekarang jatuh ke nilai Rp14,555.

Dengan kondisi seperti itu, maka Rupiah untuk sementara berada di posisi buncit di antara semua mata uang neara-negara Asia terhadap Dollar Amerika Serikat. Dengan kata lain, Rupiah telah terdepresiasi sebanyak 0,52 persen atau sebanyak 76 poin.

Bahkan terpantau juga, Rupiah juga jatuh ketika berhadapan dengan banyak mata uang negara lainnya. Hanya Indian Rupee dan Dollar Selandia Baru saja yang berhasil ditekan oleh Rupiah. Dan di bawah Dollar Amerika Serikat ada Yen Jepang serta Dollar Hong Kong yang juga menguat dan menggencet Rupiah di pagi ini.

Jika dilihat secara keseluruhan, jika Dollar Amerika Serikat menduduki peringkat kedua dan kemudian dilanjutkan oleh Yen Jepang serta Dollar Hong Kong di posisi setelahnya sebagai mata uang yang paling kuat menekan Rupiah, di posisi pertama ada Euro yang sangat kuat memberikan tekanan. Saking kuatnya Euro, membuat Rupiah terdorong turun sampai 83 poin.

Namun secara umum, dalam 5 hari terakhir, memang ada kecenderungan Dollar Amerika Serikat terus merangsek ke atas dan menguat. Hanya saja pergerakannya cukup moderat dan berada di level Rp14,000 sampai Rp14,500 an. Pernah juga sampai pada posisi Rp14,649 per 1 Dollar Amerika Serikat pada minggu ini, namun hanya berlangsung sebentar saja dan kembali turun.

Walaupun begitu, bukan hanya Indonesia saja yang melemah terhadap Dollar Amerika Serikat, ada banyak mata uang negara-negara lain di dunia yang juga mengalami hal sama. Terpantau dalam bursa, sejauh ini Dollar Amerika Serikat juga menguat terhadap Euro sebesar 0,05 persen, sebesar 0,28 persen di hadapan Poundsterling Inggris atau juga 0,04 persen dari Franc Swiss.

Sedangkan di hadapan mata uang negara-negara Asia selain Indonesia, Dollar Amerika Serikat nampak menguat sampai dengan 0,49 persen dari Won Korea Selatan, 0,07 persen dari Dollar Singapura sampai dengan 0,09 persen dari Dollar Taiwan.

Ada anggapan bahwa di balik menguatnya Dollar Amerika Serikat ini disebabkan oleh kebijakan Presiden Donald Trump terhadap pengetatan pasar tenaga kerja di negaranya itu. Dan hal tersebut menjadikan sebuah langkah menuju kepastian untuk tidak lagi khawatir akan risiko penurunan pertumbuhan perekonomian di Amerika Serikat.

Menurut catatan dari badan statistik di Negara Paman Sam tersebut, sampai dengan hari Jumat ini, tingkat pengangguran di awal pekan lalu sampai sekarang turun dan nyaris menyentuh garis terendah dalam sejarah Amerika Serikat atau dalam 49 tahun terakhir.

Namun uniknya, ada laporan dari beberapa firma dan organisasi non-pemerintahan lain yang menyebutkan bahwa tingkat kenyamanan dan kepuasan kerja para pegawai federal serta pemerintahan di Amerika Serikat juga ikut turun lantaran banyak kebijakan dari Trump yang tak lagi memihak kepada para pekerja dan hanya menguntungkan jajaran manajemen atas saja.

Selain Rupiah yang mengalami penurunan, Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG juga mengalami pergerakan yang biasa saja alias stagnan di pembukaan bursa hari ini. Bahkan menurut grafik yang ditayangkan langsung oleh Google, IHSG tercatat turun drastis dari 6,179.26 di pukul 10.00 WIB menjadi 6,172.28 sampai pukul 10.40 WIB.