Menu

Lesunya Industri Elektronik Indonesia Dalam 3 Tahun Terakhir

0 Comment


Lesunya Industri Elektronik Indonesia Dalam 3 Tahun Terakhir Saat ini, pertumbuhan industri elektronik yang ada di Indonesia mengalami stagnasi atau cenderung mengalami penebalan pada tiga tahun lapangan. Hal tersebut disebabkan oleh daya beli masyarakat Indonesia yang semakin menurun. Dikutip dari Vice presiden Samsung electronics Indonesia, Lee Kang Hyun, menyatakan bahwa industri elektronik saat ini sedang mengalami masa sulit khususnya dalam beberapa tahun belakangan. Ini menyebabkan banyak sekali industri elektronik sulit untuk berkembang dan tumbuh, bahkan sektor industri cenderung menurun pada setiap tahunnya.

Secara total, dari tiga tahun belakangan industri elektronik memang tidak mengalami perkembangan bahkan cenderung menurun sampai di angka 10%. Menurutnya, faktor utama penurunan industri elektronik yaitu daya beli masyarakat yang memang turun. Ditambah lagi adanya nilai tukar Rupiah yang sempat mengalami Depresiasi untuk beberapa waktu belakangan. Karena daya beli yang kurang dan juga kondisi ekonomi Indonesia yang saat ini tidak begitu baik akibat menguatnya dolar maka daya beli masyarakat cenderung turun.

Rupiah melemah terjadi mau tidak mau mempengaruhi harga bahan baku untuk industri yang semakin meningkat. Namun sendiri tidak mampu menaikkan harga produk daya beli masyarakat yang. Ini juga membuat bahan baku industri elektronik menjadi jauh semakin sulit dan mahal. Karena faktor inilah hasil jual juga dipertimbangkan namun tidak bisa dinaikkan karena daya beli yang terbilang rendah. Produsen elektronika sendiri mengalami kesulitan yang cukup berat dalam tiga tahun belakangan. Mendapatkan keuntungan  juga terbilang sulit karena harga tidak bisa ditingkatkan padahal harga bahan baku terus meningkat.

Bukan hanya produsen barang elektronik saja yang terkena dampaknya, namun produsen ponsel yang berada di dalam leave juga terkena dampak dari pemakan nilai tukar Rupiah di beberapa waktu belakangan. Walaupun demikian, sebagian besar produsen sudah memiliki strategi tersendiri agar harga jual ponselnya tidak naik namun bisa mendapatkan keuntungan.

Dikutip dari ketua umum gabungan elektronik Indonesia, Ali Subroto, mengatakan bahwa lemahnya Rupiah memang sangat dirasakan dampaknya khususnya pada produsen produsen elektronik, terlebih lagi ponsel. Hal ini dikarenakan banyak sekali komponen bangsa yang diimpor dari negara lain. Karena menggunakan komponen impor itu harganya tergantung dollar. Maka biaya produksinya menjadi meningkat. Jika Rupiah melemah maka biaya produksi akan terus meningkat.

Namun hal seperti ini bukanlah hal yang pertama kali di alami oleh produsen. Maka dari itu, produsen memiliki strategi tersendiri untuk menghadapi Depresiasi Rupiah tersebut. Idealnya hal tersebut dibebankan kepada pasar namun biasanya Pasar belum tentu menerima hal tersebut maka hal ini tergantung dari model bisnis sang produsen.

Jika ingin mendapatkan pangsa pasar yang jauh lebih besar, produsen biasanya akan memilih untuk mengurangi keuntungan dan tidak menaikkan harga jual. Namun biasanya produsen bersamaan juga mengeluarkan produk baru dengan harga yang lebih mahal.

Tags: , , , ,