Di Bawah Kepemimpinan Trump Hutang Amerika Serikat Meroket


Di Bawah Kepemimpinan Trump Hutang Amerika Serikat Meroket

Di Bawah Kepemimpinan Trump Hutang Amerika Serikat Meroket Sekilas memang Amerika Serikat terliha sebagai negara yang makmur dan bergelimang kekayaan, namun siapa sangka di balik itu semua, Negara Paman Sam di bawah kepemimpinan Donald Trump tersebut mempunyai hutang yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Bahkan sampai mendekati akhir tahun 2018 ini, alur hutang tersbeut semakin cepat sejak tahun 2012 lalu.

Menurut data dan angka yang dimiliki oleh Departemen Keuangan Amerika Serikat, semenjak Trump menjabat sebagai presiden, total hutang negara tersebut menjapai USD1,9 triliun atau dari awal sampai saat mendekati akhir tahun 2018 ini, jumlah totalnya mencapai USD1,36 triliun atau naik 6,6 persen. Jadi secara total keseluruhan, dari sebelumnya sampai dengan era Trump ini, hutang Amerika Serikat mencapai USD21,9 triliun.

Pinjaman-pinjaman tersebut terus dilakukan guna menutupi defisit anggaran negara yang mencapai USd779 miliar di tahun fiskal pertama pada saat Trump menjabat sebagai presiden. Hal itu merupakan celah fiskal terbesar dalam 6 tahun terakhir ini. Dan diperkirakan, jika dari awal menjabat sampai sekarang, hutan Amerika Serikat di era Trump mencapai USD1,9 triliun, maka sampai dengan masa akhir jabatan Trump yang pertama, akan ada peningkatan mencapai USD4,4 miliar.

Dengan total hutang yang begitu besar tersebut, sampai-sampai disamakan dengan total hutang Brasil yang juga sangat besar itu, maka secara realistis cukup sulit rasanya bagi Trump untuk merealisasikan janji kampanyenya yang terdahulu itu. Ya, pada saat sebelum menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat, Trump pernah mengatakan akan berhasil membayar hutang negara sampai dengan USD19 triliun besarnya dan hal itu akan dilakukannya selama dia masih menjabat sebagai presiden.

Hanya saja menurut banyak pengamat, sampai dengan masa jabatannya berakhir, hutang Amerika Serikat diperkirakan akan mencapai USD38 triliun dan hal tersebut sangat mustahil untuk dikurangi lagi mengingat kebutuhan negara akan pinjaman juga sangat besar untuk menutupi defisit anggaran sampai dengan membiayai segala hal, termasuk salah satunya adalah untuk pembiayaan dalam hal militer.

Memang ketika baru sebulan menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat, Trump berhasil memangkas jumlah hutang Negara Paman Sam itu sampai dengan USD12 miliar atau sekitar Rp159 triliun. Hanya saja setelah itu, hutang Amerika Serikat kembali naik dan mencapai level di atas rata-rata sepanjang sejarah negara tersebut.

Secara hitung-hitungan kasar saja, sampai dengan akhir tahun 2025 mendatang, diperkirakan jumlah hutang Amerika Serikat akan mencapai titik tertinggi, yaitu sebesar USD38 triliun. Untuk dapat memangkas jumlah tersebut, maka dibutuhkan pengetatan ikat pinggang yang sangat keras atau dengan memotong anggaran dan lain sebagainya.

Selain mengetatkan ikat pinggang, cara lain seperti menjual aset federal ke pihak lain juga dirasa tidak mungkin akan laku dalam jumlah besar karena nilai dari aset-aset tersebut tidak sebesar yang dibayangkan. Dengan menjual aset tersebut maka selain akan kehilangan aset berharga, pemerintah juga akan merugi karena nilai jualnya rendah.

Oleh karenanya, menjadi satu hal yang tidak mungkin secara logika jika Trump mampu mewujudkan janji kampanyenya yang lalu tersebut, terlebih sekarang ini tingkat perekonomian di Amerika Serikat serta tingkat kepuasan pekerja di negara itu sedang mengalami penurunan.

Ditambah lagi perang dagang dengan Cina juga dianggap akan merugikan Amerika Serikat sendiri karena dipercaya atau tidak, Negeri Tirai Bambu tersebut memiliki peran sentral dalam perekonomian tingkat dunia. Oleh karena itu, diharapkan Trump mampu untuk mengubah kebijakannya agar Amerika Serikat tidak semakin terbebani hutang yang besar.